REVIEW EARLY ACCESS: Fellowship – Eksperimen Brutal yang Menghadirkan Jiwa Dungeon Crawler Murni

Game dungeon crawler kooperatif, Fellowship, yang dikembangkan oleh Chief Rebel dan dipublikasikan oleh Arc Games, datang dengan janji ambisius: menyaring esensi terbaik dari endgame MMORPG tanpa perlu melalui grinding open-world yang membosankan. Setelah menghabiskan beberapa minggu menjelajahi dungeon tanpa henti, game yang menyebut dirinya MODA (Multiplayer Online Dungeon Adventure) ini terasa seperti mimpi basah bagi veteran World of Warcraft, namun membawa dilema serius tentang reward dan player retention.


Dunia yang Kaya Cerita (Tapi Belum Terungkap)

  • Estetika dan Lore: Begitu Fellowship dimulai, kamu akan disambut art style yang mengingatkan pada World of Warcraft modern, sebuah keputusan desain yang cerdas. Lokasi sentral Stronghold dan setiap dungeon terasa penuh dengan lore yang kaya, seolah-olah setiap batu punya kisah panjang untuk diceritakan.
  • Desain Dungeon yang Memukau: Dungeon-nya sendiri adalah highlight utama. Setiap dungeon memiliki tata letak dan musuh yang tematik, menawarkan jalur eksplorasi dan strategi tempur yang berbeda. Desain ini sangat memuaskan, meskipun saat ini gameplay loop yang cepat tidak memberikan waktu yang cukup bagi pemain untuk benar-benar mendalami cerita di baliknya.

Mekanik Gameplay: Holy Trinity yang Disempurnakan

  • Pilihan Peran Mutlak: Fellowship berpegang teguh pada konsep Holy Trinity (Tank, DPS, Healer) yang terbukti bekerja di dungeon run MMO. Setiap hero yang bisa dipilih terasa unik dalam perannya.
  • Sistem Penyelesaian yang Cerdas: Developer melakukan refinement yang cerdas. Dungeon run tidak hanya soal membunuh bos terakhir, melainkan mewajibkan pemain membersihkan persentase musuh tertentu sebelum bos muncul.
  • Mode Berbasis Waktu (Timer System): Mode Challenge dan Eternal mengadopsi mekanisme timer ala Mythic+ di WoW. Menyelesaikan dungeon dalam batas waktu akan memberikan bonus loot yang manis, sementara kegagalan akan mengurangi hadiah, menciptakan tekanan konstan bagi pemain untuk menyempurnakan gear dan rotasi skill mereka.

Kritik: Rasa Pahit di Balik Looting dan Waktu Terbuang

Meskipun core gameplay memuaskan, sistem progression dan looting saat ini terasa bermasalah dan berpotensi menjadi bumerang untuk player retention:

  1. Loot Hanya di Akhir: Semua loot hanya didapatkan setelah dungeon selesai. Ini menjadi drawback fatal jika ada pemain yang keluar di tengah jalan (drop out). Meskipun tidak ada penalti bagi yang keluar, tim yang tersisa terpaksa menyerah dan waktu mereka terbuang sia-sia tanpa mendapatkan reward apa pun, karena reward hanya diberikan saat penyelesaian.
  2. Kelangkaan Gold: Drop rate Gold sangat rendah. Gold dibutuhkan untuk upgrade gear dan membeli cosmetic (mount, dll). Pemain kasual dipaksa memilih antara perlahan-lahan meningkatkan kekuatan karakter atau membeli cosmetic event yang terbatas waktu.
  3. Quickplay yang Kurang Menarik: Mode Quickplay tidak memberikan hadiah gear atau gold, hanya material crafting dasar. Mode ini terasa tidak efektif untuk progression hero, padahal seharusnya menjadi pintu masuk yang ramah bagi pemain baru.

Kesimpulan: Potensi Besar dengan Cacat yang Mendasar

Fellowship sukses menciptakan genre baru yang unik, MODA, dengan mengambil esensi endgame MMORPG dan menyajikannya secara ringkas. Talent system dan crafting yang ada cukup mendalam. Namun, gameplay loop yang hanya menghargai penyelesaian total dan minimnya reward di tengah dungeon run adalah kelemahan yang harus segera diperbaiki oleh Chief Rebel agar Fellowship bisa mempertahankan komunitasnya dalam jangka panjang.


Kategori Game: Review, Action-RPG, Dungeon Crawler

Platform: PC (Early Access)

Tags: Fellowship, MODA, Chief Rebel, Dungeon Crawler, Holy Trinity, World of Warcraft

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *