Setelah dua dekade terperangkap dalam spiral dendam, trauma turun-temurun, dan pengkhianatan yang tak berujung, God of War Ragnarok akhirnya memberikan momen yang sangat emosional: pemutusan rantai siklus kekerasan! Dengan ending yang mengharukan dan DLC Valhalla yang redemtif, alur cerita yang telah mendefinisikan Kratos kini berakhir, meninggalkan pertanyaan besar: Ke mana franchise ini akan melangkah selanjutnya?
Rantai Warisan Zeus yang Telah Hancur
- Siklus Yunani: Seri God of War era Yunani dipenuhi dengan pola destruktif. Para dewa (termasuk Zeus, ayah Kratos) hidup dalam sistem ketakutan, manipulasi, dan pengkhianatan (children overthrew parents). Kratos mewarisi trauma ini, dan kematian keluarganya hanya mengunci dirinya dalam lingkaran kemarahan yang diciptakan oleh ayahnya sendiri. Parenting yang buruk inilah yang terus mendorong Kratos tanpa ia sadari.
- Introspeksi Norse: Reboot tahun 2018 membawa tema baru: Parenthood. Kratos dipaksa berhadapan dengan masa lalunya saat ia menjadi ayah. Ia mengulang kesalahan yang ia benci dari Zeus (menyembunyikan kebenaran tentang Atreus), namun God of War Ragnarok menantang Kratos untuk berubah.
Momen Penebusan yang Memutus Rantai Takdir
- Permintaan Maaf yang Dahsyat: Siklus ini mulai hancur ketika Kratos akhirnya meminta maaf kepada Atreus. Momen ini melepaskan tekanan bertahun-tahun yang dibangun di atas kebencian dan ketakutan. Kratos memilih jalan yang tidak pernah ditempuh ayahnya: mengakui kesombongan, kemarahan, dan ketakutannya.
- Freya dan Thor: Kratos bukan satu-satunya yang memutus siklus. Freya, yang awalnya terobsesi dengan balas dendam, menemukan penyembuhan. Begitu pula kisah Thor, yang merupakan produk dari trauma pelecehan generasi, mencoba membayangkan masa depan yang berbeda untuk putrinya, Thrud.
- Ramalan Hanya Sebuah Lensa: Ragnarok mengajarkan bahwa ramalan hanyalah sebuah “lensa” (lens), bukan aturan yang mengikat. Ketika Kratos memilih pengekangan alih-alih kemarahan—seperti yang dilakukan Kratos lama—ia membuktikan bahwa siklus kehancuran telah berakhir.
Kratos, Sang Dewa Harapan
DLC Valhalla menjadi penutup yang indah. Kratos dipaksa menghadapi masa lalunya di Yunani secara langsung. Pada akhirnya, Kratos tidak lagi terikat pada warisan Zeus; ia tidak lagi takut pada takdir Atreus. Kratos telah menjadi God of Hope (Dewa Harapan), dan sejarahnya sebagai God of War kini hanya menjadi kisah pengantar tidur.
Masa Depan yang Terbuka Lebar:
Jika Kratos tetap menjadi lead, game berikutnya harus menguji identitas barunya sebagai Dewa Harapan, bukan menggodanya kembali pada amarah lama. Jika Atreus yang memimpin, kisahnya mungkin akan lebih didorong oleh penemuan diri daripada warisan kekerasan ayahnya. Apapun arahnya, masa depan God of War kini terasa luas, bebas dari pola lama yang telah mendefinisikannya selama dua dekade.
Kategori Game: Action-Adventure, Naratif, Karakter
Platform: PlayStation 5, PC
Tags: God of War Ragnarok, Kratos, Atreus, Siklus Kekerasan, DLC Valhalla, Sony Santa Monica



